Indonesia
merupakan Negeri yang penuh dengan beragam budaya. Mulai dari Sabang sampai
Merauke terdapat berbagai suku, bahasa, adat, yang membuat bangsa Indonesia
menjadi salah satu daya tarik dan negara yang paling kaya akan budaya. Budaya
adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa
nilai-nilai (kebenaran, keindahan, keadilan, kemanusiaan, kebijaksanaan, dll)
yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang
relatif menetap, dan dapat dilihat dari pilihan dari warga budaya itu untuk
menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala, dan peristiwa kehidupan.
Pemikiran-pemikiran
manusia yang terus berkembang dalam menciptakan teknologi untuk membantu, dan memberikan
kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, memberikan dampak besar terhadap
budaya-budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini merupakan suatu hal yang tak bisa kita
hindari, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan, dan tidak hanya membantu dan mempermudah manusia, tetapi juga
menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut
sehingga dapat memengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya.
Perkembangan
teknologi ini tidak lepas dari prilaku konsumtif manusia dan sifat manusia yang
tidak pernah puas. Sehingga inovasi-inovasi pun terus berkembang. Salah satu
teknologi yang sedang booming di
Indonesia adalah Smartphone. Menurut
Gary B, Thomas J, dan Misty E, 2007, smartphone
adalah telepon yang internet enabled
yang biasanya menyediakan fungsi personal
digital assistant (PDA), seperti fungsi kalender, buku agenda, buku alamat,
kalkulator, dan catatan. Sedangkan dalam kamus Oxford online, smartphone adalah
telepon yang memiliki kemampuan seperti komputer, biasanya memiliki layar yang
besar dan sistem operasinya mampu menjalankan tujuan aplikasi-aplikasi yang
umum.
Kemajuan
teknologi smartphone yang semakin
berkembang dengan dilengkapi aplikasi yang beragam, membuat masyarakat
Indonesia ingin memilikinya, salah satu jenis smartphone adalah android. Android merupakan sistem operasi berbasis
linux yang dirancang untuk perangkat seluler layar sentuh, seperti smartphone. Smartphone ini memiliki pengguna yang cukup banyak di Indonesia,
karena kelebihan yang dimilikinya. Beragamnya aplikasi jejaring sosial, seperti
facebook, twitter, dan Blackberry
Messenger memudahkan kita untuk berinteraksi sosial melalui dunia maya. Jika
dilihat dari luar, tujuan penggunaan aplikasi jejaring sosial ini baik, yaitu
untuk memudahkan dalam bersosialisasi. Namun, sosialisasi ini hanya berlangsung
pada dunia maya tersebut, terkadang pada kenyataannya yang tadinya akrab di
jejaring sosial justru pada kenyataannya mereka tidak saling berinteraksi
seperti halnya pada jejaring sosial. Interaksi sosial di dunia nyata pun
menjadi berkurang, masing-masing orang hanya sibuk dengan smartphone mereka.
Penelitian
yang dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan dari Kent University di Chio seperti
mematahkan hasil temuan sebelumnya yang menyatakan lebih aktif dalam jejaring
sosial atau juga menggunakan ponsel dapat mengurangi perasaan terisolasi.
Namun, seperti yang dikutip dari Dairy Mail (09/12), ternyata apa yang
ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan itu bertolak belakang dengan penelitian
sebelumnya, dari hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa seseorang yang
kecanduan texting atau juga lebih
sering beraktivitas di jejaring sosial daripada kehidupan nyata lebih mudah
tidak bahagia, terlalu pemikir, mudah cemas, dan memiliki ‘kewajiban’ yang pada
logikanya tidak ada yang menyuruh atau mendapat keuntungan.
Hasil
penelitian yang mengambil sample dari
500 orang, juga mengungkapkan bahwa menggunakan perangkat mobile secara konstan atau selalu terhubung dengan account jejaring sosialnya, maka akan
lebih memiliki stress lebih tinggi. Penelitian
tersebut membuktikan bahwa banyak orang yang sibuk dengan smartphone mereka sendiri. Sehingga interaksi sosial pada kehidupan
nyata pun sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Zaman
sekarang, pada umumnya anak muda sudah menggunakan smartphone. Hal tersebut terlihat dari anak SD, SMP, SMA sampai
mahasiswa perguruan tinggi yang selalu membawa smartphone ketika berpergian keluar rumah, pusat perbelanjaan, dan
lain lain. Mereka selalu sibuk memantau smartphone-nya,
karena merasa hal tersebut telah menjadi sebuah kewajiban.
Anak-anak
SD pun mulai menggunakan smartphone, karena dipegangi oleh orang tuanya. Padahal
mereka tidak tahu apakah akan bermanfaat atau sebaliknya. Saat pulang sekolah
biasanya dulu mereka berjalan bersama-sama pulang ke rumah masing-masing sambil
bercanda, tertawa riang sehingga mereka
begitu akrab satu sama lain. Namun, setelah mereka menggunakan smartphone, meskipun berjalan
bersama-sama, tetapi interaksi teman satu sama lain menjadi berkurang.
Perhatian mereka dengan lingkungan juga berkurang. Hal ini secara tak langsung
telah merenggangkan hubungan sosial mereka satu sama lain. Hal tersebut juga
berlaku dengan orang tuanya sendiri ataupun dengan lingkungan terdekatnya.
Anak-anak
yang dulu sepulang sekolah selalu bermain bersama di lapangan, bermain petak
umpet, bermain layang-layang, bermain kelereng, sekarang menjadi suatu fenomena
yang jarang terlihat. Mereka seperti asyik dengan dunianya sendiri, hal tersebut
terlihat dengan seringnya anak-anak bermain di kamarnya masing-masing sambil
main game. Sehingga mereka pun
semakin jarang bergaul dengan teman sebayanya. Hal tersebut juga menyebabkan
budaya bangsa mulai hilang, seperti permainan anak-anak.
Kemajuan
teknologi ini sangat berdampak langsung pada generasi muda, karena generasi
muda cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi zaman sekarang. Lain
halnya dengan orang tua, mereka sulit untuk beradaptasi dengan perkembangan
teknologi dikarenakan mereka sudah terbiasa dengan kehidupan lamanya yang kuno,
dan kurangnya pendidikan pada masa-masa mudanya dahulu.
Setiap
inovasi pasti diciptakan untuk tujuan membantu dalam kehidupan. Namun, kemajuan teknologi ini dikatakan
bermata dua, karena memiliki sisi positif dan negatif. Hal ini menjadi suatu
hal yang dilematis, di satu sisi kita tidak mungkin kita menutup diri dari
perkembangan zaman untuk mempertahankan kebudayaan kita, karena kita
membutuhkannya, di sisi lain kemajuan teknologi menyebabkan lunturnya budaya
bangsa kita. Kita sebagai bangsa Indonesia pun dituntut untuk mengikuti
perkembangan zaman. Oleh karena itu,
kita sebagai generasi muda harus bisa mengendalikan teknologi dan memfilternya
agar kebudayaan-kebudayaan kita tetap terjaga kearifannya dan kita tetap bisa
mengikuti perkembangan zaman.

Posting Komentar
Posting Komentar