Teguh betul-betul lelah, kakinya terasa semakin berat. Ia tak kuat
lagi melangkah apalagi mencapai pintu-pintu yang berdiri kokoh dan menyambutnya
dingin. Ia bahkan tak berani lagi berharap, akan ada pintu yang terbuka lebar
dan merangul tulus.
Salahkah jika ia ingin berhenti saja dan tak seteguh harapan orang
banyak?
Wajah ayah ibunya terpatri jelas di benaknya. Semangat yang mereka
alirkan. Nenek bilang nama Teguh, yang diberikan ayah dan ibu, sudah dipatok
jauh-jauh hari. “Bahkan sebelum kau lahir!”
Disaat-saat demam dalam kesendirian, lelaki berusia 30 tahun itu
sering tertawa frustasi. Ayah dan ibu sudah lama meninggal, tapi mereka masih
menyisakan beban lamanya. Bagaimana ia bisa punya ruang berlemah diri kalau embel-embel
dari namanya Iman? Teguh Iman, begitu lengkapnya.
Waktu kecil timpahan kasih sayang dari ayah dan ibu, membuat teguh
nyaris tak merasa minder akan kekurangan fisiknya. Beranjak besar, dan melihat
kenyataan masalah fisik yang membekapnya, ternyata jauh lebih serius, dan bukan
sekadar organ yang belum berkembang, ia mulai panik. Tapi naungan Islam,
lingkungan baru kemudian mendekapnya, membuat cowok usia 18 tahun itu pasrah.
Tuhan pasti punya skenario besar untuknya. Pasti.
Dengan kepercayaan iru, dulu ia menjalani hari-hari sekolahnya. Lelaki
bertubuh tegak, dengan hidung mancung, dan mata coklat itu menjalani takdir
dengan semangat. Ia tampan. Cerdas pula. Kekurangan satu-satunya cuma…………..
“Nduk, jangan dipikirkan
fokuslah pada kelebihanmu. Jangan meratapi kekurangan!”
Ibu yang bijak lalu ayah yang selalu siap dengan dua jempol terancung
utuknya.
“Anak ayah paling Hebaat!”
Semua orang sepertimu selalu siap menghiburnya.
“Optimis, Guh…. Optimis!”
Riza, temannya satu kampus pun tak kurang memompakan semangat dan
berusaha mengalirkan kepercayaan diri. Setiap kali dilihatnya Teguh termenung
meratapi kekurangannya.
“Apa ada muslimah yang mau jadi isteriku, ya Ri?” Tanyanya gampang.
Dan Riza, dengan tawa khasnya, selalu mengalirkan hawa optimis,
“Kamu ada-ada aja, Guh!”
“Hei, aku serius!”
Mereka sudah di tahun kelima kuliah. Mendekati wisuda. Teman-teman
sekampus sudah banyak yang menikah, bahkan ada yang di tahun-tahun awal kuliah.
Wajar kalau lelaki itu mulai cemas.
“Pasti ada Guh!”
“Dengan kaki begini?” Teguh menunjuk sebelah kakinya yang mengecil dan
tak imbang. Kaki itu yang mengharuskannya kemana-mana dengan kruk. Cacat sejak
lahir, kata nenek “Guh, perempuan yang menikahimu karena Iman, karena percaya
mereka tak perlu suami dengan dua kaki, untuk menuntun mereka ke surga.
Perempuan seperti itu pasti mau!”
Tatapan ragu Teguh dibalas tepukan di bahu, menenangkan. “ Guh, tenang
kita punya banyak aktivis dakwah yang ikhlas! Mereka bukan orang-orang yang
fisik oriented!”
“Benarkah?”
Malam iru, Teguh yang berdandan rapi, membuktikan kalimat yang
diucapka Riza dengan sangat optimis dulu. Sahabatnya yang telah menikah dua
bulan lalu, memprakarsai diri untuk mencarikan calon istri untuknya.
“Seperti apa dia, Ri?”
Riza tampak berpikir. Beberapa detik berlalu dan ia masih kelihatan
berpikir sangat keras.
“Hei…” Teriakan teguh dijawab tawa meledak Ria. Ah, dia memang teman
sejati.
Bersambung……….
Sumber : Syar’I edisi 4/Rajab 1426
Posting Komentar
Posting Komentar